Pengunjung

Share/Bookmark
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Rekonstruksi Pemikiran Cak Nur di HMI

 
HANYA dengan Al-Quran dan terjemahnya kita sudah dapat memakai dan ‘memelintir’ ayat-ayat suci dengan bebasnya. Masalah kemampuan bahasa arab, asbab al-nuzul dan tetek bengek lainnya ‘tidak dipentingkan’. Memang lazimnya demikian. Toh, semuanya akan berpusing-pusing pada tafsir. Itu bahasa sadisnya saat kita berhadapan dengan majlis pengajian pada umumnya.

Praktik tadi sungguh berbeda saat kita berhadapan dengan naskah Nilai-nilai Dasar Perjuangan/Nilai Identitas Kader (selanjutnya ditulis NDP), sebuah rumusan Islam yang khas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada 5 Februari 1947. Naskah NDP itu sendiri baru disahkan pada Kongres HMI IX di Malang (Mei 1969).

Untuk memahami, apalagi mengajarkan, NDP kita harus menjalani praktik-praktik ritual tertentu yang tidak sembarang orang dapat melakukannya, mulai dari Basic Training (Latihan Kader I/LK I), pendalaman NDP Pasca LK, Training Up Grading NDP, Senior Course sampai Training Instruktur NDP. Kita juga tidak boleh meninggalkan wirid intensif dengan membaca karya-karya Nurcholish Madjid (Cak Nur).


Pembalseman Cak Nur

Mengapa hal ini dapat terjadi? Banyak alasan dapat dikemukakan. Pertama, Pembalseman Cak Nur secara sistematis. Pengaguman terhadap Cak Nur membuat semua orang merasa rendah diri ketika berhadapan dengan pemikiran-pemikirannya. Penjara imajinasi ini mengkondisikan Cak Nur laksana Tuhan bagi agama HMI. Ia bersabda di puncak gunung dan umat di bawahnya cuma mengaminkannya. Fobia kritik dijadikan alasan utama melarang dan menghakimi orang agar berbuat hal yang sama sebagaimana dirinya.

Padahal, NDP bukan tafsir kitab suci, juga bukan kumpulan hadis. Orang lupa, Cak Nur yang membuat draft NDP di periode 69-an berbeda dengan Cak Nur millenium baik dari sisi usia, intelektualitas, pengalaman dan lain-lain. NDP merupakan sebuah cara pandang Islam ala Cak Nur muda, yang ekstremnya, belum tentu benar. Repotnya, kader HMI sulit memahami evolusi pemikiran seseorang yang dapat berubah seiring waktu, kontemplasi, dan kedewasaan. Adalah hal biasa pemikiran masa lalu tidak lagi sesuai dengan pemikiran masa kini. Tidak ada alasan untuk takut mengkritik Cak Nur muda.

Mengkritisi NDP tidak ada hubungannya sama sekali dengan penghormatan kepada Cak Nur. Cak Nur tetap kita hormati dan terhormat dengan sendirinya ketika pemikiran-pemikirannya turut memperkaya khazanah pemikiran Islam Indonesia. Cak Nur adalah sedikit tokoh yang pemikiran brilyannya didengar betul oleh paling tidak 4 presiden mulai dari Suharto sampai Gus Dur.



Bias Figur dalam Kerja Kolektif

Kedua, bias personalisasi dalam realitas kolektif. Sesungguhnya perumusan NDP dihasilkan dari kerja kolektif, bukan individual. Beberapa bagian NDP jelas dikerjakan oleh kader muda HMI lainnya, seperti Endang Saefuddin Anshari, Saqib Mahmud, M Dawam Rahardjo dan yang lain. Bukan tidak mungkin terjadi benturan ide dan paradigma satu sama lain. Penguapan konsistensi ideologi dapat berbanding lurus pada wilayah ini.

Ketiga, pada saat itu, arus pemikiran keislaman disemarakkan oleh pertentangan yurisprudensi simbolis antara berbagai organisasi Islam tradisional dan modernis; di sisi lain, terbatasnya wacana keislaman alternatif dan referensi —ditandai dengan sangat minimalnya peredaran buku-buku pemikiran keislaman berbahasa Indonesia— turut memainkan peranan yang tidak sedikit pada gaya bahasa, kedalaman bahasan dan kelengkapan tema NDP. Apalagi saat itu HMI sedang berada pada dua arus besar konflik politis-ideologis, dengan CGMI, dan rezim transisional dari Orla ke Orba.

Dengan seluruh fenomena di atas, wacana-wacana keagamaan alternatif —yang mungkin bukan sesuatu yang “luar biasa” di masa kini— seperti mendapat momentum. Pemikiran-pemikiran radikal, Ahmad Wahib misalnya, menjadi sesuatu yang wah diperhadapkan dengan pemikiran keislaman konvensional saat itu.

Pada posisi inilah kita dapat mencoba memahami mengapa dalam suatu kurun waktu yang panjang, NDP menjadi sesuatu yang khas dan sulit untuk dikoreksi. Keterjagaan momentum ini, secara alamiah, terus “dilestarikan” dengan semakin gemilangnya tokoh-tokoh perumus NDP dalam konstelasi pemikiran sosial keagamaan di Indonesia. Hal berbeda mungkin akan kita temukan seandainya para perumus NDP berevolusi sebagai orang-orang kebanyakan sehingga tidak populer.

Akhirnya, kita juga paham mengapa banyak kader tidak memahami naskah NDP, meskipun membaca berulang kali. Ketidakmengertian dinisbahkan pada kebekuan intelektual mereka dan bukan pada naskahnya. Setiap kali selesai membaca yang berakhir dengan kebingungan, setiap kali itu pula kader seakan berkata bahwa ia ternyata begitu bodoh. Dan masih saja bodoh meskipun telah membaca referensi-referensi lainnya.



Pengapuran Intelektualisme

Keempat, pengapuran intelektualisme, akibat semakin menggejalanya wacana politis praktis ketimbang intelektualisme. HMI yang menang perang bharatayudha melawan PKI/CGMI dan anasir Orla lainnya seperti ketiban pulung. Gelombang besar mahasiswa yang mendaftar sebagai kader HMI baru pasca Orla ternyata tidak berdampak signifikan pada pembaruan dan pematangan teologis. Memang format dan materi perkaderan senantiasa terus berkembang, tapi semua itu tidak dibarengi dengan peninjauan ulang seluruh nilai yang menjadi landasan ideologis HMI.

Perkembangan struktural konstelasi politik dan kesibukan lainnya membuat kader-alumni HMI boleh dikata tidak dapat lagi mencurahkan sedikit perhatian kepada materi-materi utama perkaderan yang mendasar. Bahkan fenomena bombastis di atas dijadikan salah satu alasan untuk tidak menoreh tinta merah pada materi ideologi. Apalagi yang harus diutak-atik, kalau dengan keadaan sekarang saja HMI sudah dapat besar, kader-kadernya banyak yang sudah jadi orang dan menjadi motor di banyak wilayah strategis?

Alih-alih memperbarui, keberadaan NDP diperkokoh dengan polesan dalil-dalil ayat suci sebagai lampiran untuk mencuatkan dimensi keagamaan naskah tersebut. Kongres diadakan sebagai legitimasi naskah. Padahal, perangkat hukum yang menopang bagi kemungkinan diadakannnya sebuah rekonstruksi naskah ideologi sudah cukup memadai.

Lengkaplah sudah mistifikasi NDP. Ia merupakan naskah suci, sakral sehingga anti kritik. Padahal, sakralisasi pada segala sesuatu selain Allah adalah praktik kemusyrikan.






Mengawali Rekonstruksi

Sebagai nilai dasar perjuangan, NDP membutuhkan unsur-unsur penyempurna bagi tumbuhnya sebuah ideologi/paradigma/filsafa
t hidup/pandangan dunia: Sistematika yang jelas dalam penalaran rasional (filosofis), kemudahan aplikasi teori praktis (sosiologis), efek perubahan individu dan masyarakat.

Penguatan dimensi kemanusiaan yang ada di NDP jelas membawa dampak signifikan. Di satu sisi ia membawa dengan genial pesan-pesan peradaban, agar kader HMI tidak gamang dan takut menghadapi perubahan zaman. Di sisi lain, materi NDP menjauh dari pendekatan filosofis, sesuatu yang selayaknya menjadi titik sentral ideologi. Pendekatan sosiologis membuat Islam ditampilkan sebagai ‘Kehadiran’ yang mendahului ‘Kebenaran’, dasar teologi Kristen, bukan ‘Kebenaran’ mendahului ‘Kehadiran’.

Aspek filosofis di NDP, kalaulah ada, juga berputar-putar pada paradigma Calvinian. Kerancuan aspek filosofis dan sosiologis ketika berhadapan dengan teologi membuat kader semakin percaya bahwa tiada keterkaitan sama sekali antara ruang publik (rasionalisme) dan ruang privat (keimanan). Alih-alih mewartakan kebenaran Islam, pemberian materi NDP menggiring kader pada paradigma Kristen (pada Bab Ketuhanan, Bab Kemanusiaan dan Bab Ilmu Pengetahuan) dan Marxian (pada Bab Individu-Masyarakat dan Bab Keadilan Sosial Ekonomi).

Kesenjangan inilah yang menyebabkan mengapa instruktur NDP cenderung berbeda visi dan pemahaman satu sama lain. Ketidakmampuan memahami konteks historis yang melatarbelakangi perumusan NDP; ketidakmampuan memahami paradigma yang dipakai para perumus; ketidaktahuan batasan liberalisasi NDP; kurangnya referensi perbandingan dalam memahami NDP; dan kurangnya ilmu alat yang dimiliki pemateri NDP dapat dijadikan kambing hitam susulan.

Efeknya, sebagian pemateri NDP, terutama pada LK I, membawa materi seperti pengajian yang monolitik dan dogmatik. Alih-alih menggiring kader menuju kesadaran teologis, instruktur malah membuat kader terhalusinasi pada ghirah kebablasan.

Pemateri NDP cenderung membawa materi dengan paradigmanya masing-masing. Cak Nur difitnah untuk membenarkan keyakinan pemateri. Perlu dicurigai bahwa banyak pemateri yang belum bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur dan studi banding dengan referensi lain yang berhubungan. Di sisi lain, studi kritis NDP dimentahkan oleh alasan bahwa segala penjelasan tentang nasklah ideologi tahun 1969 telah ada di buku-buku Cak Nur yang baru beredar tahun 1990an. Ini tidak logis. Tiada relevansi apa pun antara buku Cak Nur dengan NDP qua NDP.

Nampaknya banyak pihak yang tidak bisa membedakan dengan jernih antara rekonstruksi dan dekonstruksi. Sedari awal tulisan ini hanyalah kritik terhadap pondasi bangunan NDP Cak Nur yang lebih nampak sebagai ‘Natsir Muda’. Namun penulis tetap yakin bahwa nilai-nilai pengubah/perbaikannya masih dapat dilihat pada evolusi pemikiran Cak Nur setelah ia semakin kosmopolit dan universal.

Pada tingkat struktural, bias ideologi berkembang semakin kompleks ketika organisasi dituntut agar memberikan kejelasan arah kaderisasi. Pada satu aspek HMI telah berhasil membentuk kader yang mempunyai karakter ideologis tertentu. Namun pada aspek lain, sebagaimana telah diterangkan di atas, HMI boleh dikata telah gagal membentuk format keislaman yang utuh.

Menjawab keparsialan NDP, instruktur yang mempunyai dalil kuat untuk menolak isi materi NDP Cak Nur bermain dengan kerangkanya sendiri. Pada aspek dinamika intelektual, ia layak diacungi jempol karena mampu membuat sebuah konsep alternatif. Pada aspek struktural, ia dikategorikan menyimpang dari kurikulum baku dan melanggar aturan main organisasi. Apalagi yang ‘didekonstruksi’ adalah materi ideologi.


Menyusun Agenda Rekonstruksi

Niat awal yang melandasi pembuatan rekonstruksi ini adalah bagaimana kita melihat wacana perubahan dalam menatap (naskah) ideologi. Biarkanlah semua pihak menimbang NDP dengan sudut pandangnya masing-masing. Toh semuanya akan dinilai secara objektif lagi proporsional untuk mencari yang terbaik. Dari mana pun datangnya hikmah itu. Yang penting, tidak boleh ada satu pun wilayah yang bebas kritik. Namun hendaknya perlu diingat bahwa sebuah rumusan ideologi senantiasa berisi konsep-konsep umum, bukan semacam juklak atau juknis.

Sudah barang tentu setiap draft tidak boleh disebut sempurna. Masih banyak hal yang perlu dikoreksi, diperjelas dan disempurnakan. Masih banyak tema dan bahasan yang perlu ditambah. Draft rekonstruksi ini juga tidak menafikan keberadaan draft lain yang dibuat oleh perorangan dan/atau institusi lain. Semakin banyak konseptor akan semakin baik. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila ada pihak yang menganggap rekonstruksi diarahkan atau dimonopoli oleh seseorang/kelompok tertentu.

Satu hal lain yang perlu dicermati adalah keberadaan senior/instruktur ideologi di daerah masing-masing. Lepas dari kadar keilmuan masing-masing, menurut penulis, mereka layak dikunjungi untuk dimintakan urun rembuknya. Biar bagaimana pun, mereka punya kontribusi tak ternilai bagi perkaderan HMI secara nasional.

Dengan iklim politis HMI yang kental, keterlibatan mereka akan menguatkan rekonstruksi secara konseptual dan faktual, sehingga tidak akan ada ungkapan sinis kepada perekonstruksi, “Anak kemarin mau menandingi Cak Nur?” tentu kita sudah tahu kesalahan logika dari ungkapan melankolis tersebut. Namun dalam ‘dunia politik’ HMI, ketidaksetujuan sebagian kalangan bisa menjadi duri. Alih-alih bicara ideologi, praktiknya adalah saling jegal setiap ide baru. Bukan rahasia, banyak pihak yang tidak setuju atas ide rekonstruksi NDP hanya karena dirinya tidak merasa dilibatkan dalam perumusannya.



Membentuk Tim

Sebuah usulan konseptual cenderung mudah diterima ketika hadir sebagai sebuah kebutuhan kolektif dalam suasana yang kondusif. Pada kondisi yang tidak tepat sebuah tawaran alternatif dari segelintir individu dan/atau institusi, misalnya menjelang suksesi, dapat didramatisasi-dipolitisasi-dinilai secara a priori.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebuah tim yang mengakomodasi seluruh perumus dari level komisariat hingga PB perlu dibentuk. Rumusan-rumusan yang terseleksi secara konseptual ini (seleksi I) sebaiknya diuji coba dalam sebuah pilot project yang akan dievaluasi dalam forum khusus (seleksi II) dan diuji kembali (seleksi III). Setelah konsep ini utuh, draft rekonstruksi NDP dapat diajukan dalam Kongres mendatang.

Dengan demikian, gerakan rekonstruksi NDP dapat dilakukan dengan gerakan kultural dan struktural. Pada satu sisi kita mengikuti ketentuan dan hierarki organisasi dengan keputusan akhir tetap di Kongres. Di sisi lain penguatan basis (komisariat/korkom/cabang) tetap dilakukan. Tanpa basa-basi birokrasi, internalisasi NDP dapat dilakukan sedini mungkin. Praktik ini secara alamiah pula dapat dianggap sebagai proses pembentukan Lembaga Pengelola Latihan (LPL) di setiap insitusi cabang, kalau memang belum ada.

Pasca rekonstruksi ideologi, kita perlu juga memikirkan rekonstruksi perkaderan mengingat perubahan materi berimplikasi signifikan pada pembumian materi. NDP yang selama ini diformat dalam satu naskah dapat dikembangkan menjadi tiga naskah dengan titik fokus dan berat yang berbeda mengikuti tingkatan perkaderan formal: basic (LK I), intermediate (LK II) dan advance (LK III).



Merangkai Mimpi

Itu harapan idealnya. Jangan berharap banyak bahwa pada akhir pelaksanaan rekonstruksi berikut segala pelatihan percontohannya akan menghasilkan kader-kader yang menjadi pemikir tercerahkan (rausyan fikr). Eksplorasi wacana ini bukanlah indoktrinasi mekanis seperti yang dilakukan banyak harakah, yang mengalami split personality, menuhankan dirinya karena bingung membedakan pendapatnya dengan ayat-ayat Tuhan yang ditentengnya ke sana ke mari. Juga bukan seperti kebanyakan aktivis rasialis himpunan mahasiswa yang mengalami post-power syndrome, menganggap kebenaran hanya datang dari duli senior.

Pada dirinya sendiri, NDP bukanlah himpunan peraturan operasional yang menawarkan tindakan praktis. Tidak seperti materi-materi informatif lainnya, materi NDP kering dan abstrak sehingga tidak menarik minat banyak kader untuk mengkajinya. Dengan demikian, adalah hal wajar kalau hanya ada segelintir orang yang berhasil tersaring, syukur-syukur menjadi pemateri, dari ramaian peserta kajian atau pelatihan.

Setelah seluruh aktivitas rekonstruksi ini berjalan, boleh kita bermimpi tentang terbentuknya kader yang dapat menggabungkan pengetahuan tradisional dan modern; yang menghimpun nilai-nilai kebijakan secara harmonis. Kader seperti ini tiada pernah meninggalkan dan melupakan dimensi transenden; mempunyai pemahaman yang integral seputar diri/manusia-alam-Tuhan; tidak mudah terseret pada paradigma politis, serta tidak mudah terhegemoni oleh negara. Boleh kita mengharap kader yang menjadi cahaya, yang terang dengan sendirinya dan menerangi segala sesuatu di luar dirinya. Rekonstruksi ideologi adalah sebuah tindakan wajar sebuah organisasi kader ketika ingin mereposisi diri pada dunia yang terus berubah. [andito]
Baca Selengkapnya... … Rekonstruksi Pemikiran Cak Nur di HMI

Tuhan Menciptakan Kejahatan???

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?" Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya."
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?""Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara - perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam. 
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
Baca Selengkapnya... … Tuhan Menciptakan Kejahatan???
Category: 0 komentar

Pemikiran Kalam Jabbariyah dan Qodariyah (bag-2)

BAB II
PEMIKIRAN KALAM JABBARIYAH DAN QODARIYAH
 
 
A. PENGERTIAN DAN PENISBATAN
Kata "Jabariyah" berasal dari kata bahasa arab "Jabara" yang artinya memaksa. Dan yang dimaksud adalah suatu golongan atau aliran atau kelompok yang berfaham bahwa semua perbuatan manusia bukan atas kehendak sendiri, namun ditentukan oleh Allah SWT. Dalam arti bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan buruk, jahat dan baik semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT dan bukan atas kehendak atau adanya campur tangan manusia.
Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri. Ini dapat diartikan pula bahwa manusia itu akhirnya tidak bersalah dan tidak berdosa, sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan atasan dimana ia tidak lain laksana robot yang mati, tidak berarti.
Pendapat jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyah (660-750 M). Yakni di masa keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. Di sini ia bermain politik yang licik. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya.
Tokoh-tokoh Jabariyah
1. Ja'd Bin Dirham
Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal di Damsyik. Ia dibunuh pancung oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah El-Qasri.
Pendapat-pendapatnya:
 Tidak pernah Allah berbicara dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh Alqur'an surat An-Nisa ayat 164.
 Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan Allah kesayangan-Nya menurut ayat 125 dari surat An-Nisa.
2. Jahm bin Shafwan
Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwa dengan Bani Ummayad.
Pendapat-pendapatnya:
 Bahwa keharusan mendapatkan ilmu pengetahuan hanya tercapai dengan akal sebelum pendengaran. Akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat hingga mungkin mencapai soal-soal metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di akhirat nanti. Hendaklah manusia menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut bilamana belum terdapat kesadaran mengenai ketuhanan.
 Iman itu adalah pengetahuan mengenai kepercayaan belaka. Oleh sebab itu iman itu tidak meliputi tiga oknum keimanan yakni kalbu, lisan dan karya. Maka tidaklah ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang ini, sebab ia adalah semata pengetahuan belaka sedangkan pengetahuan itu tidak berbeda tingkatnya.
 Tidak memberi sifat bagi Allah yang mana sifat itu mungkin diberikan pula kepada manusia, sebab itu berarti menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu. Maka Allah tidak diberi sifat sebagai satu zat atau sesuatu yang hidpu atau alim/mengetahui atau mempunyai keinginan, sebab manusia memiliki sifat-sifat yang demikian itu. Tetapi boleh Allah disifatkan dengan Qadir/kuasa, Pencipta, Pelaku, Menghidupkan, Mematikan sebab sifat-sifat itu hanya tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh manusia.
B. LATAR BELAKANG KEMUNCULAN
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia terpasung, tidak mempunyai kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata, tidak ada campur tangan manusia.
Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori paham jabariyah adalah al-Ja'ad bin Dirham, dia juga disebut sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah. Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat). Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap dilestarikan. Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut dan mengadopsi pokok-pokok ajaran kedua kaum tersebut. Selanjutnya ditangan Mu'tazilah paham-paham tersebut segar kembali. Sehingga Imam As-Syafi'i menyebutnya Wasil, Umar, Ghallan al-Dimasyq sebagai tiga serangkai yang seide itulah sebabnya kaum Mu'tazilah dinamakan juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah.
Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya intervensi Allah.
Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah, Al-quran itu Makhluk, dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di hari kiamat.
Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagai pengikut Mu'tazilah adalah Jahmiyah tetapi tidak semua Jahmiyah adalah Mu'tazilah, karena kaum Mu'tazilah berbeda pendapat dengan kaum Jahmiyah dalam masalah Jabr (hamba berbuat karena terpaksa). Kalau kaum Mu'tazilah menafikanya maka kaum Jahmiyah meyakininya.
C. DOKTRIN-DOKTRIN POKOK (USHULUL KHOMSAH)
Ajaran-ajaran pokok Jabariah:
a) Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat, buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya.
b) Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
c) Ilmu Allah bersifat Huduts (baru)
d) Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan.
e) Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
f) Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
g) Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
h) Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
Asas-asas mazhab Qadariyah:
a) Mengingkari takdir Allah Taala dengan maksud ilmuNya.
b) Melampau di dalam menetapkan kemampuan manusia dengan menganggap mereka bebas berkehendak (iradah). Di dalam perbuatan manusia, Allah tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) mengenainya dan ia terlepas dari takdir (qadar). Mereka menganggap bahawa Allah tidak mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu kecuali selepas ia terjadi.
c) Mereka berpendapat bahawa Allah tidak bersifat dengan suatu sifat yang ada pada makhluknya. Kerana ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih). Oleh itu mereka menafikan sifat-sifat Ma'ani dari Allah Taala.
d) Mereka berpendapat bahawa al-Quran itu adalah makhluk. Ini disebabkan pengingkaran mereka terhadap sifat Allah.
e) Mengenal Allah wajib menurut akal, dan iman itu ialah mengenal Allah.
f) Mereka mengingkari melihat Allah (rukyah), kerana ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih).
g) Mereka mengemukakan pendapat tentang syurga dan neraka akan musnah (fana'), selepas ahli syurga mengecap nikmat dan ali neraka menerima azab siksa.
D. QADHA DAN QADAR SERTA MAKNA TAKDIR ALLAH MENURUT JABARIYAH
Aliran Jabariyah berpendapat mengatakan segala sesuatu yang terjadi pada manusia atau jagad raya ini meupakan kehendak Allah semata tanpa peran serta sesuatu pun termasuk di dalamnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Aliran Jabariyah mengibaratkan bahwa perbuatan manusia tak ubah seperti dedanunan yang bergerak diterpa angin atau dalam ilustrasi yang sangat sederhana bisa dicontohkan bahwa aliran Jabariyah menggambarkan manusia bagaikan robot yang disetir oleh remote kontrol.
E. PERBUATAN, KEHENDAK MANUSIA DENGAN QUDRAT IRADAT ALLAH MENURUT JABARIYAH
Para Ulama Pengikut aliran Jabariyah, berpendapat bahwa semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan kehendak dan ketetapan Allah. Manusia tidak mempunai peran atas segala perbuatannya. Perbuatan baik dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia merupakan Qudrat dan Iradat (kekuasaan atau kehendak) Allah.
Ulama aliran Jabariyah mengesampingkan usaha dan ikhtiar manusia. Dengan kata lain manusia tidak mempunyai peran apa-apa atas kehendak dan perbuatannya, semuanya berdasarkan Qadha dan Qadar Allah, Kalau semua perbuatan manusia merupakan ketetapan dan kehendakan Allah mengapa manusia harus diberi pahala jika menjalani suatu kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
Artinya: " Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Niscaya Allah memasukannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah kemenangan yang besar". (QS: 4: An-Nisa': 13)
Allah juga akan memberikan siksa kepada hambaNya yang selalu berbuat dosa artinya tidak mau ta'at kepada Allah dan rasul-Nya. Yakni tidak mau meninggalkan semua larangan-Nya dan tidak mau menjalankan semua perintah-Nya. Sebagaimana firman Allah:
Arinya: "Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, Niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan". (QS: 4: An-Nisaa':14)
Dilihat dari sisi lain pendapat 'Ulama Jabariyah kurang kuat karena: Untuk apa pula Allah memberi petunjuk, kabar gembira dan memberikan peringatan melalui para Rasul-Nya agar manusia dapat mengerti antara haq dan yang bathil sebagaimana firman Allah:
Artinya: "Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan" (QS:18: Al-Kahfi: 56)
Dari beberapa Kutipan Ayat suci Al-Quran diatas maka pendapat ulama Jabariyah menjadi lemah. Sementara itu Yusuf Al Qardhawi memandang bahwa aliran Jabariyah hanya memandang satu sifat kekuasaan Allah dan tidak memandang keadilan dan kebijaksanaan-Nya; sehingga semua perbuatan yang dilakukan disandarkan pada takdir Allah. Dengan kata lain aliran Jabariyah menafikan fungsi dan peran Rasul Allah serta ancaman yang akan diberikan kepada pelanggar (durhaka) tatanan nilai Ilahiyah (syari'ah agama) dan pahala bagi para pelaksana (bertaqwa) tatanan nilai Ilahiyah (sayri'ah agama). Hal ini menurut Jalaluddin Ar-Rumi bahwa: Sekiranya manusia dalam keadaan terkekang seperti pendapat aliran Jabariyah, maka tidak mungkin jika dia dibebani perintah dan larangan, atau disuruh untuk menjalankan syari'at dan hukum Islam. Karena sesungguhnya Al-Qur'an itu berisikan perintah dan larangan.
Jabariah sebagai penolakan terhadap pandangan kaum qadariyah, munculnya kaum Jabariyah yang berpendapat bahwa perbuatan manusia itu baik dan buruk, semuannya berasal dari Allah. Jika perbuatan tersebut disebut sebagai perbuatan manusia, maka hal ini hanya kiasan saja. Seperti saat kita menyatakan bahwa sungai itu mengalir, padahal pada hakikatnya Tuhanlah yang mengalirkannya. Manusia menurut pandangan kaum Jabariyah tak ubahnya seperti bulu ayam yang bertebangan ditiup angin (karena itulah maka kaum Jabariyah dan kaum qadariyah dikatakan dua golongan yang satu sama lainnya saling bertolak belakang.
Berdasarkan keyakinan seperti ini maka kaum Jabariyah memiliki pandangan yang meniadakan sifat dan nama Allah, sementara Al-kalam (firman Allah) yang merupakan sifat Allah menurut pendapat mereka adalah hadis (sesuatu yang baru).



DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad Sufyan Raji. 2003. MENGENAL ALIRAN-ALIRAN ISLAM DAN CIRI-CIRI AJARANNYA. Jakarta: Pustaka Al-Riyadl.
Abdurrahman, A. Said Aqil Humam. 2004. PENJELASAN MENYELURUH TENTANG QADHA DAN QADAR. Bogor: Al-Azhar Press.
Al-Qahthani, Said bin Musfin. 2003. BUKU PUTIH SYEKH ABDUL QADIR AL-JAELANI. Jakarta: Penerbit Buku Islam Kaffah.
Fachruddin, Fuad Mohd. 1990. SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM. Jakarta: CV. Yasaguna.
Husein, Abu Lubaba. tt. PEMIKIRAN HADIST MU'TAZILAH. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Muthahhari, Murtadha. 2002. MENGENAL ILMU KALAM. Jakarta: Pustaka Zahra.
Sumadi, Sutrisna dan Rafi'udin. 2003. KEBEBASAN MANUSIA ATAS TAKDIR ALLAH BERDASAR KONSEP PENCIPTAAN NABI ADAM a.s. Jakarta: Pustaka Quantum.
Baca Selengkapnya... … Pemikiran Kalam Jabbariyah dan Qodariyah (bag-2)
Category: 0 komentar

Pemikiran Kalam Jabbariyah dan Qodariyah (bag-1)

BAB I
PENDAHULUAN
Kajian Islam terbagi kepada berbagai bidang ilmu yang antara lain adalah ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tawhid, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Ilmu kalam membahas tentang Tuhan, rasul-rasul, wahyu, akhirat, iman dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Ilmu kalam disebut juga ilmu usuluddin, ilmu ‘aqa’id, dan teologi. Dalam mengkaji dan membahas materi ilmu kalam ini terdapat bermacam-macam cara memahaminya di kalangan umat Islam. Paham yang lahir dari suatu cara memahami materi ilmu kalam ini dalam bahasa Arab disebut firqah yang jamaknya firaq. Firqah dalam bahasa Indonesia disebut aliran. Aliran-aliran dalam ilmu kalam disebut dalam bahasa Arab al-firaq al-Islamiyah.
Untuk aliran dalam fikih disebut mazhab. Namun, belakangan penggunaan sebutan-sebutan ini sudah tidak terlalu ketat lagi sehingga kata mazhab kadang-kadang sudah digunakan oleh sementara orang untuk maksud aliran dalam ilmu kalam. Persoalan yang pertama-tama muncul dalam Islam adalah persoalan di bidang politik. Waktu Nabi Muhammad Saw. wafat, muncul persoalan siapa yang berhak menjadi penggantinya sebagai khalifah. Menurut sejarah, Abu Bakar disetujui menjadi Khalifah pertama. Khalifah kedua, Umar, ketiga Usman, dan keempat Ali. Terbunuhnya Usman dan naiknya Ali menjadi Khalifah keempat kemudian menimbulkan masalah.
Pada tahun 37 H, terjadi perang antara Ali sebagai Khalifah dan Mu’awiyah sebagai Gubernur Syam. Perang ini terjadi di Siffin sehingga perang ini dikenal dengan perang Siffin. Karena pasukan Mu’awiyah terdesak dan sudah siap untuk mundur, tangan kanannya yang terkenal licik, ‘Amr ibn al’Ash minta berdamai dengan mengangkatkan Al-Quran ke atas. Para qari di barisan Ali minta agar perdamaian itu diterima Ali. Ali dan sebagian pengikutnya keberatan. Tapi, karena desakan, akhirnya Ali menyetujuinya. Disepakati bahwa Abu Musa alAsy’ari mewakili Ali dan ‘Amr ibn al’Ash mewakili Mu’awiyah. Dengan alasan menghormati orang tua, ‘Amr meminta Abu Musa lebih dahulu berdiri memakzulkan Ali dan kemudian ‘Amr memakzulkan Mu’awiyah. Setelah Abu Musa memakzulkan Ali, ‘Amr berdiri mengukuhkan Mu’awiyah menjadi Khalifah.
Kekacauan terjadi. Pasukan Ali yang sejak semula tidak setuju dengan perdamaian tipu itu keluar dari barisan ‘Ali dan menjadi penentangnya dan sekaligus penentang Mu’awiyah. Kelompok yang keluar ini disebut Khawarij. Mereka memandang Ali, Mu’awiyah, Abu Musa, ‘Amr ibn al’Ash dan orang-orang yang setuju dengan perdamaian yang disebut dalam sejarah arbitrase sebagai kafir. Tak berapa lama, Khawarij ini pecah pula kepada beberapa sekte yang antara satu dengan lainnya saling mengkafirkan dan menghalalkan darahnya. Persoalan kafir pun berkembang. Kalau tadinya kafir itu berarti orang yang tidak berhukum kepada Al-Quran, maka kemudian pelaku dosa besar (murtakib alkabirah), yakni pembunuh Usman pun dihukum kafir. Ternyata, persoalan ini menimbulkan tiga aliran.
Pertama Khawarij yang memandang pelaku dosa besar kafir. Kedua aliran Murji”ah yang memandang pelaku dosa besar tetap mukmin dan hukumannya ditangguhkan kepada Mahkamah Allah untuk mengampuninya atau tidak mengampuninya. Ketiga aliran Muktazilah yang memandang pelaku dosa besar berada di antara dua posisi mukmin dan kafir (almanzilah bain almanzilatain). Di luar tiga golongan ini, masih tinggal golongan yang mengikuti paham mayoritas umat Islam yang kemudian dikenal dengan golongan Ahlus Sunnah wa alJama’ah. Al Hasan al Basri (w. 110 H), Imam Malik (w. 179 H) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) adalah di antara tokoh-tokoh Ahlus Sunnah.
Paham Ahlus Sunnah ini kemudian dipertegas oleh Abu al Hasan al Asy’ari (w. 330 H). Menurut dia, Allah mengetahui dengan ilmu, hidup dengan hayah, menghendaki dengan iradah. Ilmu Allah esa dan ta’alluq (berobjek) kepada segala yang maklum. Setiap yang wujud dapat dilihat. Karena itu, Allah dapat dilihat karena Ia wujud.
Pelaku dosa besar jika tidak taubat, maka hukumannya terserah kepada Allah. Manusia mujbar (terpaksa), tetapi Allah memberi kasab baginya. Alquran adalah kalam Allah yang qadim. Selain Abu al Hasan al Asy’ari, dikenal pula Ahmad at Tahawi (w. 322 H) di Mesir dan Abu Mansur al Maturidi as Samarkandi (w. 333 H) yang ketiganya disebut dalam sejarah sebagai pendiri aliran Sunni. Namun karena antara mereka terdapat juga perbedaan, maka yang lebih tepat paham mereka dibanggakan kepada masing-masing. Misalnya, paham Asy’ariyah, paham Maturidiyah dan paham Tahawiyah.
Pendiri paham Mu’tazilah adalah Wasil ibn ‘Atha’ (w. 131 H) di Basrah. Ia adalah murid al Hasan al Basri. Ketika mendiskusikan hukum pelaku dosa besar, Wasil berdiri dari majlis alHasan dan pergi ke satu sudut dari Masjid Basrah.Di sana ia berkata bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak Mukmin, melainkan almanzilah bain almanzilatain (posisi di antara dua posisi). Sejak itu, paham ini berkembang menjadi satu aliran. Di atas telah disebutkan pokok ajaran mereka. Menurut mereka, Al-Quran makhluk, manusia berbuat dengan kehendaknya sendiri, tidak ada takdir, Tuhan tidak dapat dilihat, mengutus Rasul wajib bagi Allah.
Sebagai pengaruh penggunaan akal yang semakin besar dalam memahami nas, muncul pula paham Qadariyah dan Jabariyah. Menurut Qadariyah, manusia mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat (free will and free act). Orang pertama berpaham Qadariyah adalah Ma’bad alJuhani yang terbunuh pada tahun 80 H. Menurut Jabariyah, manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat (predestination atau fatalism). Orang pertama berpaham Jabariyah adalah Ja’d ibn Dirham (w. 124 H). Kemudian, paham ini dikembangkan oleh muridnya Jahm ibn Safwan yang dihukum mati dan dibunuh pada tahun 127 H karena menurut dia sorga dan neraka akan binasa atau tidak kekal. Sekarang Agus Mustafa lahir di Indonesia membawa paham Jahm ibn Safwan ini dalam bukunya yang berjudul, Ternyata Akhirat Tidak Kekal.
Pendukung Ali dalam bahasa Arab disebut Syi’ah ‘Ali. Syi’ah ‘Ali juga membentuk aliran yang memiliki paham yang berbeda dengan lainnya. Syiah pun memiliki sekte-sekte. Ahlus Sunnah pun bermacam-macam pula yang pada garis besarnya ada dua, Salaf atau Salafi dan Khalaf. Paham Salaf diwakili Imam Ahmad ibn Hambal (w.241 H), Abu al Hasan al Asy’ari (w. 330 H) dan Syekh Ibn Taimiyah (w. 728 H), sedang paham Khalaf diwakili al Baqillani (w.403 H) dan al Juwaini (w. 478 H). Perbedaan pokok antara Salaf dan Khalaf adalah soal takwil.
Takwil berarti memberi makna kepada nas Alquran dan Hadis dengan makna yang jauh, tidak makna zahirnya. Misalnya, yadullah diartikan oleh Salaf dengan ‘tangan Allah.” Khalaf mengartikannya dengan ‘kekuasaan Allah.
Demikianlah lahir dan berkembang aliran-aliran dalam Islam. Masing-masing berkembang menjadi sekte-sekte. Sebagian sekte ini masih dalam lingkaran Islam dan sebagian lagi sudah tergelincir dari Islam. Misalnya, sekte ‘Ajaridah dari Khawarij tidak mengakui surat Yusuf sebagi bagian dari Alquran. Sebab, menurut mereka cerita porno tidak layak menjadi isi Kitab Suci Alquran.
Fakta sejarah menunjukkan, persoalan pertama yang muncul di kalangan umat Islam yang menyebabkan kaum muslimin terpecah ke dalam beberapa firqah (kelompok/golongan ) adalah persoalan politik. Dari masalah ini kemudian lahir berbagai kelompok dan aliran teologi dengan pandangan dan pendapat yang berbeda.
Baca Selengkapnya... … Pemikiran Kalam Jabbariyah dan Qodariyah (bag-1)
Category: 0 komentar

PENGANTAR FILSAFAT

Pendahuluan

Filsafat berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan), tahu dengan mendalam, hikmah.

Filsafat menurut term : ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan).

Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis Romawi orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia. Menurut Prof, I.R. PUDJAWIJATNA menerangkan juga ”Filo” artinya cinta dalam arti seluas-luasnya yaitu ingin dan karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang diinginkannya . ”Sofia” artinya kebijaksanaan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.

Syekh Mustafa Abdurraziq, setelah meneliti pemakaian kata-kata filsafat dikalangan muslim, maka berkesimpulan bahwa kata-kata hikmah dan hakim dalam bahasa arab dipakai dalam arti ”filsafat dan filosof” dan sebaliknya, mereka mengatakan Hukama-Ul-Islam atau Falasifatul-Islam.

Hikmah adalah perkara tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia dengan melalui alat-alat tertentu, yaitu akal dan metode-metode berfikirnya. Allah berfirman dalam QS Albaqorah (2) :269, “Allah memberikan hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya dan siapa yang diberikan hikmat, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak sekali”.

Datangnya hikmah bukan dari penglihatan saja, tetapi juga dari penglihatan dan hati, atau dengan kata-kata lain , dengan mata hati dan pikiran yang tertuju kepada alam yang ada disekeling kita, banyak orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan, karena itu Allah mengajak kita untuk melihat dan berfikir: QS Adz Dzariyat (51) 20 Allah berfirman :” Pada bumi ada tanda-tanda (kebesaran Tuhan ) bagi orang yang yakin, apakah kamu tidak mengetahui”

Konon orang pertama yang menggunakan akal secara serius adalah Thales (Bapak filsafat) gelar ini diterima karena ia mengajukan pertanyaan :”Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini? Ia menjawab ”Air” setelah itu silih berganti filisof zaman itu dan sesudah itu mengajukan jawaban. Ada yang menjawab (1) Anaximandros (To Apeiron = asas pertama, tak terbatas), (2) Anaximenes (udara), (3) Phytagoras (Bilangan, jiwa kekal), (4) Zeno realitas yang ada. Dari Thales sampai Zeno menganut paham Monisme (kenyataan seluruh bersifat satu). Sedangkan dari Empedos hingga Demokritos bersifat berlawanan dengan Monisme. (5) Empedokles menyatakan (6) Anasir/Rizomata: air , udara., api, tanah. (7) socrates ( Kebenaran objektif) , (8) Plato ( idea) (9) aristoteles (penggerak pertama /a first cause or motion).



Filsafat Zaman Yunani Kuno

Filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu ("arche" = ). Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air. Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir ("panta rei" = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu? Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga. Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.

Puncak zaman Yunani dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM).

Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk "melahirkan" pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. -- Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya.

Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai "sophis" ("yang bijaksana dan berapengetahuan"), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates "menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah". Karena itu dia didakwa "memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda" dan dibawa ke pengadilan kota Athena.

Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.

Plato menyumbangkan ajaran tentang "idea". Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, nun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, ... bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung, ... kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak.

Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, -- konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.

Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh. Itu persoalan ada ("being") dan mengada (menjadi, "becoming").

Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu "berubah" (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.

Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.

Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji zogol, dan zokigolkeabsahan cara berfikir. Logika dibentuk dari kata berarti sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.

Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih "hylemorfisme": apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material ("hyle") sana-sini dari bentuk ("morphe") yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan ("dynamis", Latin: "potentia") untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama. Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang "tetap" dan yang "berubah".

Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah "pria yang belum lengkap". Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah "ladang", yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah "yang menanam". Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan "bentuk", sedang wanita menyumbangkan "substansi".

Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama "jiwa" ("psyche", Latin: anima). Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat "mengamati" dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup "mengerti" dunia dalam dirinya. Jiwa manusia dilengkapi dengan "nous" (Latin: "ratio" atau "intellectus") yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima "logoz". Itu membuat manusia memiliki bahasa.

Pemikiran Aristoteles merupakan hartakarun umat manusia yang berbudaya. Pengaruhnya terasa sampai kini, -- itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data. Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.

Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya. Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga.

Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon ("alat") untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing.

Zaman Yunani pasca-aristoteles ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme. Stoisisme (Zeno, 333-262 sM) terkenal karena etikanya: manusia berbahagia jika ia bertindak rasional. Epikurisme (Epikuros, 341-270 sM) juga terkenal dalam etika: "kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita".

Neo-platonisme (Plotinos, 205-270 M). Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) = "to hen", yang esa, "the one". Yang esane otdisebut oleh Plotinos adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang esa adalah pusat daya, -- seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya. Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali.

Dari = "nous", budi, akal, bahkan roh (?). "Nous" zuon mengalir ne ot = hcny merupakan "bayang-bayang" dari "to hen". Dari "nous" mengalir = "me uo hm "psykhe", jiwa, yang merupakan perbatasan "nous" dengan on", materi, yang merupakan kemungkinan atau potensi bagi keberadaan suatu bentuk, yang pada manusia adalah tubuh. "Psykhe" merupakan penghubung antara "nous" yang terang, yang berlawanan dengan materi yang gelap, yang rohani berlawanan dengan yang jasmani. Menurut neo-platonisme, perlawanan itu merupakan penyimpangan dari kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, manusia harus kembali kepada "to hen", dan itulah tujuan hidup manusia. "To hen" kiranya identik dengan konsep "Sang Sangkan Paraning Dumadi" dalam tradisi Jawa.

Kesatuan mistis dengan "to hen" merupakan kebenaran sejati. Manusia harus berkontemplasi untuk mengatasi hal-hal yang inderawi, yang merupakan penghambat besar bagi pembebasannya dari hidup dalam dimensi materi yang bersifat gelap (dan berakhir kepada kematian) menuju kepada hidup dalam dimensi roh yang membawa kepada terang (serta awal dari kekekalan).

Jejak pemikiran neoplatonisme dapat diamati dalam pengalaman mistik, yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau "jiwa kosmik". Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan Ciptaan, tetapi para ahli mistik tidak menemui pemisahan seperti itu. Mereka jutru mengalami rasa "penyatuan dengan Tuhan". Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasa dia "kehilangan dirinya", dia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang dalam diri Tuhan, sebagaimana setitik atau sepercik air kehilangan dirinya ketika telah menyatu dalam samudera raya.

Tetapi pengalaman mistik itu tidak selalu datang sendiri. Ahli mistik harus mencari jalan "pencucian dan pencerahan" untuk bisa bertemu dengan Tuhan, melalui hidup sederhana dan berbagai teknik meditasi. Kecenderungan mistik tu diketemukan dalam semua agama besar di dunia. Dalam "agama" Jawa dikenallah konsep "manunggaling kawula lan Gusti", yang jejaknya dalam sastra suluk Jawa digali dan diungkapkan bagi generasi masa kini dalam konteks filsafat dan pandangan keagamaan.



MAKNA KEBENARAN

Kebenaran secara filosofis berarti proposisi rasional yang sesuai dengan realitas. Kebenaran merupakan sifat kemestian bagi pengetahuan baik dari sisi kesesuaiannya dengan realita (kenyataan) dan nafs al-amr1 dengan kata lain kenyataan yang sebenarnya adalah kebenaran suatu predikat terhadap subjeknya baik kebenaran itu sesuai dengan ukuran keberadaan yang diluar akal (eksternal) atau dalam akal (internal).

Dari penjelasan di atas diketahui ada wujud dalam akal (wujud internal) dan ada wujud di luar akal (wujud eksternal). Masalahnya, adakah kebenaran itu?

Persoalan ini adalah persoalan yang cukup pelik dan sulit sehingga tak jarang para ahli dan pemikir terjebak dalam permainannya tanpa pernah menyelesaikannya. Karenanya diperlukan kesabaran dan ketenangan dalam memahaminya. Dalam pandangan filsafat Islam, kebenaran adalah eksis (keberadaan nyata) karena bersumber dari keberadaan, sedangkan kesalahan adalah tidak eksis (tidak memiliki keberadaan nyata) karena bersumber dari ketiadaan.



AKTUALITAS KEBENARAN: MENYOAL RELATIVISME

Persoalan kebenaran merupakan konsekuensi logis dari pengetahuan. Artinya, kebenaran menjadi penting saat kita melakukan kajian dan merumuskan tentang pengetahuan manusia, bahkan secara sederhana dapat dikatakan bahwa “kebenaran itu tidak lain daripada pengetahuan itu sendiri”. Maksudnya, jika kita mengetahui sesuatu, berarti kita benar, jika tidak, berarti kita salah. Sebab, tanpa nilai kebenaran, semua pengetahuan manusia akan berubah menjadi ketidaktahuan dan kesia-siaan, dan itu berarti tindakan tak bermakna.

Jika hal ini tidak kita akui, maka akan terjadi lingkaran setan, karena dari sini persoalan kebenaran terulang kembali, yakni apakah kesia-siaan itu merupakan tindakan yang benar atau tidak? Apapun jawaban anda, kebenaran tetap menjadi pilihan. Mengapa begitu, karena, jika kita cermati jawaban tersebut hanya akan berkisar pada tiga alternatif :
  1. Membenarkan tindakan sia-sia, dengan menyalahkan tindakan yang bermakna, atau
  2. Membenarkan tindakan bermakna dengan menyalahkan tindakan sia-sia.
  3. Tidak membenarkan dan tidak menyalahkan tindakan sia-sia.

Adapun tentang masalah kemampuan untuk menggapai kebenaran yang nyata dan absolut, maka hal itu bukanlah kemustahilan, melainkan kemestian pengetahuan. Karena itu ungkapan yang menjelaskan bahwa “semua kebenaran itu relatif” adalah ungkapan yang tidak valid. Karena ungkapan itu, diterima atau tidak akan tetap menunjukkan adanya kebenaran absolut. Yaitu jika ungkapan itu diterima, berarti telah ada kebenaran mutlak, yakni kebenaran ungkapan itu. sedangkan jika ditolak dan salah itu berarti menunjukkan pemahaman sebaliknya yakni adanya kebenaran mutlak -–sebagai lawan dari kerelatifan.

Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa, kebenaran ada 2 jenis: 
1. Kebenaran mutlak/absolut merupakan kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh akal kita. Ada 2 jenis yaitu:
  • Kebenaran absolut Karena dirinya/sumbernya absolut seperti Allah dan Nabi yang maksum.
  • Kebenaran absolut yang keluar dari sumber yang tidak absolut/tidak maksum, maka kebenaran seperti ini mesti bersyarat yakni harus didukung oleh argumentasi yang gamblang/jelas dan akurat serta kuat yang tidak dapat ditolak, bukan argumentasi penipuan. 
2. Kebenaran tidak mutlak/relatif yaitu kebenaran yang belum tentu benar tetapi juga belum tentu salah. Memiliki kemungkinan salah tetapi bukan mesti salah, dan memiliki kemungkinan benar, tetapi tidak mesti benar. Salah dan benar dalam urusan relatif ini bisa diakui setelah adanya dalil atau argumen. Jadi dalam hal yang relatif ini, jika kita, setelah mendalaminya dengan baik dan ternyata salah maka Allah akan memaafkan kita asal tidak menghina orang lain. Relatif ini ada dua yakni:
  • Horizontal (menyamping) yakni hal yang saling bertentangan yaitu hal yang tidak mesti salah atau benar, akan tetapi tidak bisa semuanya dibenarkan. Yang mungkin terjadi adalah bahwa yang benar adalah satu atau semuanya salah. Dalam hal ini kita dibolehkan untuk mengutarakan pendapat dan menyalahkan pendapat yang lain dengan argumentasi kita, akan tetapi dilarang memaksakan pendapat kita kepada orang lain dan meghina pendapat orang lain.
  • Relatif ke atas/vertikal yaitu ragam kebenaran dengan tingkatan yang berbeda. Dalam hal ini semua bisa dianggap benar hanya saja memiliki tingkat kedalaman argumentasi yang berbeda (gradasi kebenaran). Misalnya, kebenaran ilmu kalam, filsafat dan irfan.



REFERENSI

Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1990

Kuza’i, Rodliyah, Dialog Epistemologi Mohammad Iqbal dan Charles S. Pierce, Bandung: Refika Aditama, 2007.

Kaelan, Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika, Bandung: Paradigma, 2009. 
Yazdi, Mehdi Ha’iri, Epistemologi Iluminasionis; Menghadirkan Cahaya Tuhan, Bandung: Mizan, 2003.
Baca Selengkapnya... … PENGANTAR FILSAFAT
Category:

FILSAFAT ILMU

BAB I

PENDAHULUAN


Apakah Tuhan itu ada? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang cukup menggelitik ketika kita mendalami filsafat, termasuk filsafat ilmu. Berbagai temuan ilmiah seringkali mengecilkan arti keberadaan Tuhan. Bahkan ada juga yang mengingkari sama sekali keberadaan Tuhan tersebut.

Kalau dikaji dari sudut pandang religius, keberadaan Tuhan ini tentu tidak diragukan lagi. Banyak ayat-ayat dari kitab suci, apapun agamanya, yang membenarkan keberadaan Tuhan tersebut. Al Qur'an misalnya. Pada surat Al Ikhlas misalnya, keberadaan Tuhan jelas-jelas disebut. Pada surat tersebut diuraikan secara gamblang sebagai berikut:

  1. Katakanlah (wahai Muhammad), Tuhan itu satu

  2. Dial ah Tuhan bagi alam semesta

  3. Tidak punya anak dan tidak diperanakkan

  4. Tidak ada satu makhlukpun yang sama atau dapat dibandingkan denganNya.

(Al Hilali, 1993)

Namun, uraian ini belumlah cukup meyakinkan bagi orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Mereka memerlukan argumen-argumen yang secara logika dapat dipercaya. Karena itu perlu pengkajian yang lebih mendasar secara rasional.

Buku Theories of Knowledge and Reality mencoba menawarkan berbagai argumen menyangkut keberadaan Tuhan ini. Buku ini memperkenalkan tentang masalah utama, argumen-argumen dan berbagai metode yang digunakan dalam filsafat. Ada empat hal utama yang selalu menjadi perdebatan tidak henti-hentinya dalam filsafat terutama filsafat agama yaitu keberadaan Tuhan, masalah-masalah yang menyangkut pikiran dan tubuh manusia, persepsi dan pengetahuan tentang dunia luar, serta kronik tentang kebebasan atau keterikatan manusia. Pada kesempatan ini akan dibahas masalah keberadaan Tuhan dilihat dari dua sudut yang bertentangan, yaitu Teis dan Ateis, disertai argumenasi filosofis masing-masing fihak dalam mempertahankan pendiriannya.

Ada dua alat yang digunakan oleh manusia untuk mempertahankan pendirian serta menkritik pendirian orang lain. Alat tersebut adalah logika dan bahasa. Logika akan membimbing manusia dalam menarik kesimpulan serta mengemukakan pendapat. Sedangkan bahasa digunakan untuk mengekspresikan kesimpulan serta pendapat seseorang. Kedua hal ini sangat penting dalam pergumulan manusia.

Logika adalah suatu cara untuk menarik kesimpulan yang benar dari suatu suatu fenomena dengan ditunjang oleh prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang relevan. Logika ini dikemukakan dalam bentuk argumen yang didasarkan pada kesimpulan terhadap suatu fenomena. Dalam menarik kesimpulan ini ada dua pendekatan yang digunakan yaitu deduktif dan induktif. Suatu kesimpulan dikatakan deduktif jika premis digunakan sebagai bukti bahwa kesimpulan tersebut benar. Jika premis digunakan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan, maka kesimpulan tersebut disebut induktif.

Dalam mengemukakan kesimpulan dalam suatu argumen, peran bahasa sangan besar. Bahasa inilah yang memastikan orang lain dapat memahami argumen seseorang atau tidak. Dalam bahasa terkandung unsur arti atau pengertian, analisis konsep, dan proposisi dan kalimat. Ketiga hal inilah yang sangat besar perannya dalam menyusun argumen yang tidak hanya dimengerti, tapi lebih jauh diterima oleh orang lain sebagai suatu kebenaran.

Dalam filsafat, keberadaan Tuhan ini tidaklah dapat dikaji hanya dari sudut kepercayaan religius atau keagamaan. Jika dikaji dengan alat ini, maka tidak ada lagi yang perlu didiskusikan karena masalah ini sudah selesai. Bagi seorang yang religius keberadaan Tuhan itu sudah final. Tidak adalagi yang dapat didiskusikan seputar keberadaan Tuhan tersebut. Sementara kalau dari sudut pandang filsafat, keberadaan Tuhan itu haruslah dikaji dengan mendasar secara rasional.

Apakah Tuhan itu? Apakah Tuhan itu benar-benar ada? Para filsuf mempunyai pemahaman yang tidak sama tentang Tuhan serta Keberadaannya. Ada yang menolak keberadaan Tuhan karena menurut mereka tidak rasional. Mereka digolongkan pada Ateis. Ada yang mengakui keberadaan Tuhan dengan berbagai pandangan berbeda. Sementara ada juga yang tidak menolak keberadaan Tuhan ini namun tidak menunjukkan pengakuan terhadap keberadaan Tuhan tersebut. Golongan ini disebut sebagai Agnostik. Untuk menunjang pemahaman mereka tersebut, masing-masing pihak keluar dengan argumen masing-masing .

Golongan yang mengakui keberadaan Tuhan keluar dengan tiga argumen yang berbeda yaitu teleologis, kosmologis, dan ontologis. Argumen teleologis bersifat induktif a posteriori, argumen kosmologis bersifat deduktif a posteriori, dan argumen ontologis bersifat deduktif apriori. Golongan Ateispun mempunyai argumen yang rasional dan mendasar untuk menunjang penolakan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Argumen-argumen dari golongan ini memiliki kedua pendekatan baik deduktif maupun induktif.

Argumen yang paling umum tentang keberadaan Tuhan adalah argumen teleologis. Argumen teleologis menyandarkan kesimpulannya pada pengalaman empirik tertentu dan menarik kesamaan dengan obyek yang kebenarannya akan dipertahankan.

Dengan menggunakan argumen ini pendudukung keberadaan Tuhan menunjukkan keberadaan Tuhan dengan menganalogikan alam semesta dengan obyek-obyek lain ciptaan manusia. Mereka berargumen bahwa alam semesta yang demikian teratur ini tidak mungkin tidak ada yang menciptakan. Dan penciptanya tentulah sesuatu yang sangat cerdas yang melebihi kecerdasan makhluk apapun. Perancang dan pencipta alam semesta yang maha cerdas inilah yang diklaim sebagai Tuhan.

Argumen lain yang mempertahankan keberadaan Tuhan adalah argumen kosmologis. Kosmologi ini berasal dari kata kosmos yang berarti alam semesta. Argumen ini juga mendasarkan kesimpulannya pada pengalaman empirik menyangkut alam semesta.

Argumen ini dimulai dari pemahaman umum menyangkut kebenaran yang nyata tentang keberadaan alam semesta. Siapapun di atas dunia tidak dapat menyangkal keberadaan alam semesta karena keberadaannya benar-benar nyata. Selanjutnya kita akan sampai pada pertanyaan tentang apa yang menyebabkan alam semesta ini ada. Secara fisik alam semesta itu nyata-nyata ada. Keberadaannya pasti ada penyebabnya. Penyebabnya tentulah sesuatu yang sangat luar biasa kuasanya melebihi apapun. Penyebab ini tetunya sudah ada tanpa ada yang menyebabkabkan keberadaannya. Dan dialah yang disebut Tuhan. Karena itulah Tuhan itu pasti ada.

Ontologis merupakan argumen lain yang digunakan untuk menunjukkan keberadaan Tuhan. Ontologi ini popular sejak sebagi subyek debat filsafat sejak tahu 1077 saat di diperkenalkan oleh St. Anselman. Konsep dasar di balik semua argumen ontologis tentang Tuhan adalah bahwa kita tidak akan dapat memahami konsep Tuhan jika kita tidak menagakui keberadaannya. Pemahaman kita tentang Tuhan adalah sesuatu yang sangat istimewa, sangat sempurna, lebih dari segala sesuatu lainnya yang mungkin ada.

Ada dua versi argumen ontologis yaitu argumen langsung dan argumen tak langsung. Pada arguman langsung kesimpulan langsung diberikan setelah premis tanpa ada asumsi tambahan. Versi ini dikenal dengan versi Cartesian yang diperkenalkan oleh Descartes. Ide dasar dari Cartesian ini sangat sederhana. Jika sesuatu itu Tuhan, Ianya mesti sempurna. Kesempurnaan itu meliputi maha kuasa, maha tahu dan secara moral sempurna. Jika keberadaan merupakan salah satu bukti dari kesempurnaan maka Tuhan pasti memiliki unsur keberadaan. Karena itu Tuhan pasti ada.

Sedangkan pada versi kedua, argumen tak langsung, atau lebih pas disebut argumen reductio ad absurdum. Pada versi ini kesimpulan diambil setelah menunjukkan bahwa argumen yang menolak kesimpulan ini salah. Versi ini dikenal dengan versi Anselmian yang diperkenalkan oleh St. Anselman.

St. Anselman berpendapat bahwa sesuatu itu Tuhan jika dan hanya jika Ia adalah sesuatu yang paling dapat dipercaya. Tuhan adalah sesuatu yang tidak ada yang lebih besar darinya. Kaum Ateis setuju dengan pernyataan bahwa Tuhan itu pastilah lebih besar dari apapun. Namun, mereka berpendapat bahwa Tuhan itu hanya ada dalam pikiran, tidak dalam kenyataan. Karena itu Tuhan itu tidak ada. Anselman berpendapat bahwa argumen kaum Ateis ini absurd dan kontradiktif. Di satu pihak mengakui konsep ketuhanan, namun di sisi lain menolak keberadaan Tuhan karena Tuhan tersebut tidak ada dalam kenyataan. Karena argumen itu kontradiktif dan absurd, maka argumen tersebut tidak dapat diterima. Oleh karenanya argumen yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada harus ditolak. Dan itu berarti bahwa Tuhan itu ada.

Kita sudah membahas argumen-argumen yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpihak pada pendapat bahwa Tuhan itu ada. Lalu, bagaimanakah pendapat orang yang menentangnya. Orang-orang Ateis menentang pendapat ini dengan menggunakan argumen yang dikenal dengan masalah menyangkut keberadaan kejahatan. Argumen yang dikemukan bersandar pada kedua metode penarikan kesimpulan baik deduktif maupun induktif.

Argumen pertama yang dikemukakan oleh para Ateis dalam menolak keberadaan Tuhan adalah dengan mengemukakan secara logika tentang kejahatan. Argumen ini dikemukanan dengan menggunakan pendekatan deduktif. Menurut mereka jika Tuhan itu maha kuasa, maha tahu dan secara moral sempurna, tentu tidak ada kejahatan di atas dunia. Padahal kenyatannya kejahatan itu ada. Karena itu keberadaan Tuhan harus ditolak.

Argumen kedua adalah dengan menunjukkan bukti tentang kejahatan. Argumen ini dikemukakan dengan menggunakan pendekatan induktif. Menurut mereka tidak ada satu orangpun yang dapat mengingkari bahwa kejahatan itu ada. Kita bisa melihat adanya perang, kelaparan, penyakit menular, rasa sakit dan lain-lain. Jika Tuhan secara moral sempurna, Ia tidak akan mau menciptakan dunia yang tidak sempurna; jika Ia maha tahu, tentunya Ia tahu dunia seperti apa yang terbaik; dan jika Ia maha kuasa, tentunya Ia punya kekuatan menciptakan dunia yang sempurna. Jika Ia maha kuasa, maha tahu, dan maha sempurna, tentunya Ia tidak kan menciptakan kejahatan dan segala keskitan tersebut. Kenyataanya kejahatan dan kesakitan tersebut ada. Ini merupakan bukti bahwa Tuhan itu tidak ada.

Demikianlah perdebatan yang tiada hentinya dari golongan yang mengakui bahwa Tuhan itu ada dan golongan yang menentangnya. Masing-masing fihak keluar dengan argumen yang menurut mereka kuat namun menurut lawan sangat lemah.

BAB II

PEMBAHASAN


Argumen-argumen yang dikemukan baik oleh golongan Teis maupun Ateis tidak lepas dari kritik. Kritik-kritik tersebut merupakan argumen-argumen pterhadap argumen-argumen sebelumnya.


Kritik terhadap argumen pendukung keberadaan Tuhan

  1. Kritik terhadap argumen teleologis

Benarkah argumen teleologis yang menyimpulkan bahwa alam semesta itu mepunyai perancang yang maha agung? Katakanlah argument itu benar. Namun masih ada pertanyaan yang tersisa. Apakah argumen itu menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan itu mungkin?

Kesimpulan bahwa ada perancang alam semesta yang sangat cerdas mengarahkan bahwa sesuatu di luar alam semesta itu yang bertanggungjawab untuk keberadaan dan pengaturan alam semesta. Dan itulah Tuhan. Tuhan, seperti pendapat tradisional mestinya sesuatu yang maha esa, maha tahu, maha kuasa, secara moral sempurna, tiada awal dan akhir, serta maha ada.

Andaipun kita mengabaikan berbagai penolakan selama ini, kita mesti mempertanyakan apakah "perancang agung" tersebut memiliki semua atribut diatas. Apakah perancang agung tersebut benar-benar tunggal? Kelihatannya tidak. Tidak ada argumen yang betul-betul meyakinkan bahwa perancang tersebut tunggal. Tidak ada satu argumenpun yang mengabaikan bahwa penciptaan alam semesta itu dilakukan oleh sekumpulan pencipta sebagaimana dipercaya oleh pendukung politeis. Apakah perancang tersebut tiada awal dan akhir atau abadi? Ini juga kelihatannya tidak. Mungkin saja Ia dibuat oleh sesuatu lain yang lenyap setelah penciptaannya. Tidak ada sutau argumenpun yang membantahnya. Selanjutnya, apakah perancang tersebut maha tahu dan maha kuasa? Kelihatannya juga tidak. Memang, perancang tersebut sangat super sepanjang menyangkut otak dan otot. Namun argumen ini sama sekali tidak menunjukakan kemahatahuan dan kemahakuasaan. Tearkhir, apakah perancang tersebut secara moral sempurna? Pertanyaan ini malah lebih sulit lagi. Kenyataan tentang adanya kejahatan dan segala ketidaksempurnaan alam menunjukkan bahwa alam semesta ini bukanlah ciptaan Tuhan yang benar-benar baik, dan maha kuasa.

Melihat pertanyan-pertanyaan tersebut, argumen-argumen teleologis tentang keberadaan Tuhan terlemahkan. Kalau argumen tentang keberadaan Tuhan itu lemah, maka bukankah itu berarti bahwa Tuhan tersebut belum tentu ada? Inilah salah satu kelemahan dari argumen teleologis yang selama ini digunakan.


  1. Kritik terhadap argumen kosmologis

Argumen kosmologis menguraikan bahwa alam semesta itu ada karena ada penyebab keberadaannya. Penyebab keberadaannya tentu sesuatu yang luar biasa yang ada tanpa ada penyebabnya. Dialah penyebab yang pertama.

Katakanlah argumen tersebut untuk sementara waktu diterima. Tapi apakah penyebab pertama tersebut dapat disebut sebagai Tuhan? Pertanyaan selanjutnya apakah penyebab pertama atau Tuhan itu betul-betul ada? Andaipun kita setujui argumen bahwa Tuhan adalah penyebab pertama adanya alam semesta, argumen ini masih belum cukup kuat untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu ada.

Kritik lain datang dari kenyataan bahwa obyek bukanlah penyebab. Penyebab sesuatu adalah kejadian atau keadaan. Jadi kita tidak ingin mengidentifikasikan Tuhan penyebab pertama, yang konsekwensinya adalah mengidenfikasikan Tuhan sebagai suatu kejadian atau keadaan. Argumen ini tidak dapat membuktikan bahwa alam semesta ini ada karena adanya penyebab pertama yang tidak punya penyebab. Argumen ini akhirnya tidak juga dapat mempertahankan tentang keberadaan Tuhan.

Kritik lain datang dari Charles Darwin melalui bukunya The Origin of Species yang dipublikasikannya pada tahun 1859 (Bronowski, 1973). Menurut Darwin semua makhluk itu berasal dari makhluk bersel satu yang terus menerus berevolusi dan mengalami mutasi menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya hingga sampai pada bentuknya yang sekarang. Menurut Darwin pejelasan tentang alam semesta itu bersifat alami, bukan supranatural sebagaimana yang dikemukakan oleh penganut keberadaan Tuhan.


  1. Kritik terhadap argumen ontologis

Argumen ontologis menjelaskan bahwa Jika sesuatu itu Tuhan, Ianya mesti sempurna. Kesempurnaan itu meliputi maha kuasa, maha tahu dan secara moral sempurna. Jika keberadaan merupakan salah satu bukti dari kesempurnaan maka Tuhan pasti memiliki unsur keberadaan. Karena itu Tuhan pasti ada.

Bagi kaum Ateis argumen ini sangat lemah. Bagaimana mungkin atribut kesempurnaan merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada? Bukankan argumen yang dikemukakan tersebut semua hanya ada dalam konsep, dalam pengertian? Memang tidak dapat dimungkiri bahwa sesuatu disebut Tuhan jika ia lebih segala-galanya dari makhluk apapun. Namun, tidak ada hal seperti ini yang dapat kita temukan dalam kenyataan. Kita hanya menemukan hal seperti ini dalam pengertian.


Kritik terhadap argumen yang menolak keberadaan Tuhan

  1. Kritik terhadap argumen logika keberadaan kejahatan

Salah satu argumen yang digunakan oleh kaum Ateis untuk menolak keberadaan Tuhan adalah dengan menyatakan bahwa: "Jika Tuhan itu ada dan secara moral sempurna, maka Ia tidak akan mengijinkan adanya kejahatan yang Ia ketahui dan dapat mencegahnya". Argumen ini bukanlah kebenaran yang sesungguhnya, dan kemungkinan salah. Sebagai sesuatu yang secara moral sempurna, Tuhan pastilah membiarkankan terjadinya kejahatan diatas bumi. Tujuannya adalah untuk menciptakan dunia yang memiliki kebebasan bagi manusia untuk memilih dan menentukan sendiri apa yang akan dilakukannya.

Dunia yang memiliki penduduknya yang mempunya tanggung jawab moral adalah dunia yang lebih baik secara moral daripada dunia yang tidak memiliki tanggung jawab moral. Keadaan ini memerlukan penduduk yang memiliki kebebasan memilih. Jika seseorang tidak memiliki kebebasan maka ia tidak dapat disalahkan atau dipuji atas apa yang dilakukan. Karena itu sesuatu yang secara moral sempurna, yaitu Tuhan, tentunya mempunyai maksud untuk menciptakan dunia yang memiliki tanggung jawab moral, dan memberikan kebebasan kepada ciptaannya. Jika ciptaannya memiliki kebebasan yang sesungguhnya, maka kepada mereka mesti diberi kebebesan untuk memilih kejahatan atau kebaikan. Karena itu adanya kejahatan diatas dunia bukanlah karena Tuhan tidak ada. Argumen yang menyatakan bahwa kejahatan terjadi karena tidak ada Tuhan adalah argumen yang benar, karena itu harus ditolak.

  1. Kritik terhadap argumen kejahatan sebagai bukti ketiadaan Tuhan

Argumen lain dalam menolak keberadaan Tuhan adalah dengan menunjukkan bahwa adanya kejahatan di alam semesta adalah bukti dari tidak adanya Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan yang katanya maha esa, maha kuasa, maha tahu dan secara moral sempurna mau berdampingan dengan kejahatan.

Apakah argumen ini cukup kuat untuk menolak keberadaan Tuhan? Belum tentu. Mungkin saja keberadaan kejahatan dapat membuat keberadaan Tuhan menjadi sangat tidak mungkin. Namun, apakah betul adanya kejahatan merupakann bukti dari ketiadaan Tuhan? Apakah tidak mungkin bahwa adanya kejahatan itu justru menjadi bukti keberadaan Tuhan. Jadi kalau dikaji lebih mendalam, sesungguhnya keberadaan Tuhan tidak akan tersangkalkan bahkan jika ada kejahatan sekalipun. Untuk menyangkal keberadaan Tuhan tidaklah cukup hanaya dengan menunjukkan kejahatan sebagai bukti. Diperlukan argumen yang lebih kuat lagi untuk menunjang pernyataan tentang ketiadaan Tuhan.

BAB III

ANALISIS


Masih validkah argumen kaum Teis dalam mempertahankan keberadaan Tuhan untuk menjawab apakah Tuhan itu ada? Di lain fihak cukup validkan argumen kaum Ateis dalam menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban bahwa Tuhan itu tidak ada? Apakah tidak mungkin kita menggunakan argumen religius untuk menjawab pertanyaan tersebut secara filosofis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus menggunakan alat-alat filsafat, terutama logika.

Logika menurut Suriasumantri (1985) secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk bepikir secara sahih. Logika dapat juga dikatakan sebagai suatu cara untuk menarik kesimpulan yang benar dari suatu suatu fenomena dengan ditunjang oleh prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang relevan. Logika ini dikemukakan dalam bentuk argumen yang didasarkan pada kesimpulan terhadap suatu fenomena. Dalam logika terkandung sifat-sifat masuk akal atau rasional.Untuk menjawab pertanyan apakah Tuhan ada, tentunya kita harus berpikir logis, menggunakan logika atau akal sehat.

Ibnu Rusyd (1126 – 1198) (Nasution, 1978) salah seorang filsuf Islam dari Cordova, Spanyol, merupakan salah seorang filsuf yang mendukung argumen kosmologi. Ia menggunakan alam semesta sebagai jalan untuk menarik kesimpulan tentang keberadaan Tuhan. Seperti halnya para filsuf pendukung argumen kosmologis, Ibnu Rusyd berpendapat bahwa segala sesuatu dalam alam semesta berlaku menurut hukum alam, yaitu sebab-musabab atau causality. Segala sesuatu dalam alam semesta berlaku menurut aturan-aturan tertentu yang sangat sempurna.

Untuk menunjang argumennya ia mengutip Al-Qur'an Surat Hud ayat 8 yang bunyinya: "Dan Ialah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari dan takhtanya pada waktu itu berada di atas air, agar Ia uji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya". Menurut Ibnu Rusyd ayat ini mengaandung arti bahwa sebelum alam semesta berwujud seperti yang ada sekarang telah ada wujud lain yaitu air. Tuhan kemudian menciptakan alam semesta dari air dalam periode waktu tertentu, yang dalam Al Qur'an disebut 6 hari.

Apakah argumen ini benar secara logika? Adakah argumen lain yang menunjang pendapatnya. Dalam hal kejadian alam semesta pendapat ini mungkin dapat kita bandingkan dengan Charles Darwin (Bronowski, 1973) yang lahir jauh sesudahnya. Walaupun dalam bukunya The Origin of Species, Darwin hanya menjelaskan asal-usul spesies yang ada di atas bumi, namun setidaknya ada kesamaan pendapat bahwa pada mulanya segala sesuatu itu berasal dari air.

Pendapat lain datang Dr. Ahmed Aroua dalam bukunya L 'Islam et la Science (Campbel, 1986). Dalam buku itu menjelaskan hubungan antara ilmu dan agama yang antara lain menyebutkan sebagai berikut:

"Karena itu, ilmu pengetahuan diperlukan tidak hanya menjelaskan fenomena dan bertindak untuk itu tapi juga untuk menjawab alasan dan tujuan akhir dari perkembangan sesuatu. Ilmu-ilmu obyektif tidak cukup memiliki kualifikasi untuk menjawab tipe pertanyaan metafisik ini, dan filsafat hanyalah merupakan spekulasi dengan penjelasan yang mendasar dari ilmu pengetahuan. Kebenaran hanya akan datang dari sumber transedental yang menguassai alam semesta" Kutipan ini mengandung pengertian bahwa pengamatan ilmiah terhadap alam semesta menunjukkan adanya Tuhan maha pencipta.

Bagi Freud (1994), pengalaman tentang Tuhan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Ia ia mengatakan bahwa: "Sangatlah memalukan menemukan begitu banyak orang yang harus melihat bahwa agama tidaklah masuk akal, tapi mencoba mempertahankannya dengan tindakan keras yang memalukan. Setiap orang ingin memasukkan dirinya kedalam kelompok orang-orang pemeluk agama, dan mengkritisi para filsuf yang mencoba menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang jauh, penuh dengan bayangan dan abstrak". Dari penjelasan ini tampaknya bagi Freud Tuhan itu mungkin tidak ada. Pandangan-pandangannya, teori-teorinya lebih mendekati pengetahuan alami dibandingkan supra-natural.

Bagi Kant (Brumbaugh, 1963) keberadaan Tuhan sebagai penyebab pertama alam semesta adalah pasti. Adalah tidak masuk akal bagi Kant jika dunia ada tanpa ada penyebab pertama. Tetapi asumsi bahwa ada titik awal penciptaan, bagi Kant merupakan suatu hal yang sulit diterima. Apakah yang menyebabkan penyebab pertama untuk bertindak? Itu pertanyaan yang sulit dijelaskan. Bagi Kant gagasan tentang sesuatu sebagai penyebab tapi keberadaannya sendiri tanpa penyebab merupakan pelanggaran yang jelas bagi aturan yang mengawali pemikirannya bahwa setiap kejadia pasti ada penyebabnya.

Bagi Newton (Holton, 1960), keberadaan Tuhan merupakan syarat mutlak bagi keteraturan alam semesta. Ia berpendapat bahwa keteraturan serta kestabilan tata surya membuktikan bahwa ini hanya dapat dihasilkan oleh kebijaksanaan dan kekuasaan Sang Pencipta yang berakal dan berkuasa. Pendapat ini seakan menentang pendapat yang berkembang saat itu bahwa setiap kemajuan ilmu pasti ditafsirkan sebagai pukulan terhadap agama.

BAB IV

PENUTUP


Kesimpulan

Apakah Tuhan itu ada? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menggelitik yang muncul diawal tulisan ini. J.A. Cover dan Rudy L. Garns menjawab dengan bagus dalam buku Theories of Knowledge and Reality. Dia menguraikan masalah ini dari dua sudut pandang yang bertentangan dengan menggunakan argumen masing-masing.

Berdasarkan penelaahan dengan menggunakan berbagai pendapat para ilmuwan lain dapat disimpulkan bahwa:

  1. Argumen seseorang tentang keberadaan atau ketiadaan Tuhan sangat tergantung dari cara pandang dia terhadap alam semesta serta Tuhan itu sendiri.

  2. Latar belakang kehidupan serta lingkungan juga banyak pengaruhnya dalam mencetak argumen-argumen seseorang tentang keberadaan Tuhan.

  3. Kebanyakan argumen tentang keberadaan Tuhan ini dapat dipatahkan dengan mudah adalah karena keterbatasan dalam menyusun preposisi-preposisi yang mendukung kesimpulan.

  4. Dari pengamatan sementara, lebih banyak ilmuwan yang tetap percaya terhadap keberadaan, kekuasaan serta sifat-sifatnya daripada ilmuwan yang menyangkal.

Keyakinan akan keberadaan Tuhan tersebut adalah merupakan keyakinan pribadi seseorang. Tidak ada sesuatupun yang dapat memaksakan pendapatnya untuk mengubah keyakinan seseorang. Keyakinan seseorang terhadap keberadaan Tuhan tersebut tidak selalu berhubungan dengan apakah ia memeluk agama tertentu serta menjalankan ibadah menurut agama yang dipeluknya.


Saran-saran

Untuk memberikan bekal yang lebih kuat bagi mahasiswa dalam menyampaikan argumentasi pada sebuah diskusi ada beberapa hal yang perlu dilakukan baik oleh perguruan tinggi maupun oleh dosen, terutama untuk mahasiswa S1. Saran saran tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mahasiswa perlu dibekali dengan Filsafat Ilmu yang secara khusus lebih mendalami topic-topik mengenai logika.

  2. Logika sebagai bagian dari filsafat perlu mendapat perhatian yang lebih besar karena logika ini akan membimbing mahasiswa dalam menarik kesimpulan yang logis dan rasional serta menyusun argumen-argumen yang juga logis dan rasional.

  3. Logis dan rasional merupakan sarat yang harus dipenuhi baik dalam menyampaikan pendapat secara lisan maupun tertulis.

  4. Seseorang yang tidak dapat menyusun argumen yang logis dan rasional akan sangat mudah dikalahkan dalam suatu perdebatan-perdebatan, baik lisan maupun tertulis.

DAFTAR PUSTAKA


Al-Hilali, M. Taqiuddin, and M. Muhsin Khan, Interpretation of the Meanings of The Noble Qur'an in the English Language, Riyadh, Maktaba Dar-us-Salam, 1993.

Bronowski, J , The Ascent of Man, Cetakan 11, Boston, Little, Brown and Company, 1973

Brumbaugh, Roberts, and Nathaniel M Lawrence, Philosophers on Education, Six Essays on the Foundations of Western Thought, Boston, Hougton Mifflin Company, 1963

Campbel, William F., The Qur'an and the Bible in Light of History and Science, Arab World Ministries, Upper Darby, Philadelphia, 1986

Freud, Sigmund, Civilization and its Discontents, Translated by Joan Riviere, Dover Publication Inc., New York, 1994

Holton, Gerald, Ilmu Pengetahuan Modern dan Kita, dalam Dick Hartoko (ed.), Golongan Cendikiawan, Mereka yang berumah di atas angin, Gramedia, Jakarta, 1980

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, Cetakan 2, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1978

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar, Cetakan 2, Sinar Harapan, Jakarta, 1985.





Y U S
Yakin Usaha Sampai

Baca Selengkapnya... … FILSAFAT ILMU
Category: 0 komentar

sambil santai !!!

Labels

Filsafat (9) Organisasi (5) Resensi (3)

tampilkan banner di blog kamu


ini kode script-nya!

Apa tanggapan anda tentang blog ini?

Temen-Temen

..:: Perhatian !! terima kasih atas kunjungannya ^_^ silahkah berkunjung lagi di lain waktu ::..