Pengunjung

Share/Bookmark

Pemikiran HMI dan Relevansinya

Judul buku : Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Pengarang : Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul

Penerbit : CV Misaka Galiza

Tebal Buku : 355 halaman

LATAR BELAKANG SEJARAH BERDIRINYA HMI

Seminar sejarah HMI yang berlangsung di Malang 11 tahun yang lalu tanggal 27-30 November 1975 menampilkan beberapa makalah dari tokoh-tokoh HMI baik yang senior maupun yang junior.Diantara makalah tersebut ada dua makalah yang menulis tentang latar belakang berdirinya HMI. Pertama, A. Dahlan Ranuwiharjo adalah seorang tokoh HMI, bahakan pada saat-saat kritis pernah menjadi Ketua Umum PB tahun 1953-1955, termasuk dalam barisan yang paling bdekat dengan awal kehadiran HMI. Kedua, Agussalim Sitompul yang membuat makalah tentang naskah yang mencakup sejarah HMI secara Nasional, sejak tahun 1947-1975 dengan judul Sejarah Perjuangan HMI.

Menurut A. Dahlan Ranuwiharjo latar belakang berdirinya HMI meliputi empat hal;

· pertama, karena Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) yang tidak memperhatikan kepentingan para mahasiswa beragama islam, ceramah-ceramah keagamaan tidak pernah diselenggarakan, tidak memikirkan kebutuhan para mahasiswa untuk Sholat Magrib karena kuliah berlangsung dari jam 16.30-20.30 WIB.

· Kedua, karena adanya dominasi Partai Sosialis terhadap PMY sebagai satu-satunya wadah mahasiswa pada waktu itu, sebagai satu strategi menguasai mahasiswa untuk tujuan kepentingan-kepentingan politik Partai Sosialis.

· Ketiga, karena adanya polarisasi politik di tanah air, PS di satu pihak dan Masyumi, PNI, Persatuan Perjuangan lain pihak.Polarisasi politik nitu membawa masyarakat mahasiswa, karena sebagian besar pengurus PMY berorientasi kepada Partai Sosialis, padahal banyak di antara mahasiswa yang tergabung dalam PMY tidak mau berorientasi kepada Partai Sosialis, mereka independent.

· Keempat, perlunya persatuan dikalangan mahasiswa menghadapi egresi Belanda, mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Apa yang diungkapkan poleh A. Dahlan Ranuwiharjo, memiliki beberapa persamaan dengan yang ditulis oleh Agussalim Sitompul. Menurut Agussalim Sitompul, untuk menelusuri latar belakang berdirinya HMI, ada factor-faktor dominant yang meliputi 3 hal, yaitu:

· Pertama, situasi Negara Republik Indonesia. Di mana dengan kedatangan bangsa Inggris, Portugis, Spanyol, dan Belanda ke Indonesia, di samping sebagai penjajah sekaligus membawa misi peradaban barat yang bercorak sekularis.

· Kedua, situasi umat islam Indonesia. Sangat dirasakan bahwa pengalaman, pemahaman ajaran islam di Indonesia berlaku ridak sebagaimana mestinya. Roh dan semangat islam tenggelam di tengah-tengah peradaban barat.

· Ketiga, situasi dunia perguruan tinggi dan kemahasiswaan. Akibat logis dari penjajahan Belanda, dunia pendidikan umumnya serta dunia perguruan tinggi dipengaruhi sistem pendidikan Barat, yang mengarah kepada sekularisme, mendangkalkan pemahaman dan penghayatan agama dalam setiap aspek kehidupan. Dengan pengaruh sekularisme tersebut maka PMY mengambil basis sebagai organisasi yang berhaluan komunis sehingga situasi perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan dilanda krisis keseimbangan. Krisis keseimbangan yang dimaksud adalah tidak adanya perpaduan antara pemenuhan tugas hidup didunia dan akhirat, akal dan budi, jasmani dan rohani.



Dari kedua kerangka dasar diatas secara konkrit dapatlah dideskripsikan latar belakang sejarah berdirinya HMI. Himpunan Mahasiswa Islam yang disingkat HMI didirikan di Yogyakarta tanggal 14 Rabiulawal 1366 H, bertepatan tanggal 5 Februari 1947 oleh para mahasiswa tingkat I Sekolah Tinggi Islam (STI) yang sekarang bernama Universitas Islam Indonesia (UII), yang dicetuskan dan diprakarsai Lafran Pane, tanpa campur tangan pihak luar, kecuali oleh mahasiswa sendiri, di dalam ruang kuliah, karena konfigurasi politik, agama islam, pendidikan, ekonomi dan kebudayaan yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia umumnya.

Konfigurasi yang dimaksud adalah:

1. Politik. Negara Republik Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Kedaulatan yang dicita-citakan Proklamasi 17 Agustus 1945 belum sepenuhnya berada ditangan bangsa Indonesia karena cengkraman dan dominasi kekuasaan Belaknda masih sangat kuat.

2. Ekonomi. Kondisi perekonomian bangsa Indonesia sangat jauh terbelakang, rakyat hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan karena semua kekayaan bumi bangsa Indonesia diperas untuk kepentingan politik Belanda. Adanya propaganda dari Belanda bahwa kaum muslimin cukup beribadah saja, berdoa, berpuasa, mengurusi mesjid, tidak pantas mengurusi perekonomian. Pemikiran seperti ini bertujuan untuk melemahkan potensi dan kekuatan umat islam yang seharusnya menganut prinsip keseimbangan antara dunia dan akhirat.

3. Pendidikan. Pendidikan bangsa Indonesia masih jauh terbelakang, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati pendidikan.Walaupun pada awal abad ke-20 sudah berdiri organisasi-organisasi islam dan nasional seperti Jami’atui Khair, Al-Irsyad, Muhammadiyyah dan Nahdatul Ulama namun masih terbatas dengan masalah dana. Pada umumnya pendidikan masih didominasi dengan sistem pendidikan Barat yang mengarah pada sekularisme.

4. Islam. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, dalam bukunya Islam Ditinja dari Berbagai Aspek mengatakan bahwa di kalangan masyarakat Indonesia terdapat kesan bahwa Islam bersifat sempit karena kebanyakan masyarakat Indonesia mengenal Islam dari tiga aspek saja yaitu ibadat, fikih, tauhid, yang akhirnya menimbulkan pengertian yang tidak lengkap tentang Islam. Sementara menurut Lafran Pane dalam tulisannya yang berjudul Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia, menggambarkan kondisi sosiologi umat islam di mana tingkat pemahaman, pengalaman, dan penghayatan agama Islam disamping bagian terbesarnya melakukan agama Islam itu sebagai kewajiban yang diadatkan seumpamanya upacara kawin, mati, dan selamatan, masih ada 3 golongan lagi, yaitu:

· Pertama, golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya, yang mengenal dan mempraktekkan agama Islam sesuai dengan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Golongan ini umumnya berpendapat supaya mempraktekkan agama Islam seperti yang dilakukan di negeri Arab 14 abad yang lalu tanpa memperhatikan tempat dan waktu di abad mana mereka hidup sehingga perubahan-perubahan dalam cara hidup dan alam pikiran mereka hampir-hampir tidak ada, selamanya statis.

· Kedua, golongan alim ulama dan pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik. Golongan ini menganggap bahwa hidup ini hanya untuk kehidupan akhirat belaka. Mereka tidak memikirkan kehidupan dunia dan pendirian mereka bahwa kemiskinan dan penderitaan itu salah satu jalan untuk bersatu dengan Tuhan.

· Ketiga, golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman selaras dengan ujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha supaya ajaran Islam benar-benar dapat dilaksanakan dalam kehidupan nyata dalam masyarakat Islam.

5. Kebudayaan. Persoalan kebudayaan memang dan selalu kompleks dan sangat rumit. Islam sendiri menghadapi berbagai aliran kebudayaan di Indonesia seperti kebudayaan Barat, Komunis, Sosialis, serta kebudayaan yang dibawa oleh Kristen.



Kondisi-kondisi obyektif diatas yang mendorong berdirinya HMI. Kelahiran HMI merupakan keharusan sejarah, dan mempunyai arti dan tempat tersendiri dalam sejarah perjuangan nasional. HMI dengan idealisme pemikirannya telah ikut membuat sejarah, mewariskan suatu nilai perjuangan serta pemikiran, yakni kebulatan tekad: Mempertahankan Negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam, seperti tertuang dalam rumusan tujuan HMI yang pertama, pada waktu disahkan dan didirikan 5 Februari 1947.



PILAR-PILAR PERJUANGAN HMI

Ibarat bangunan, HMI terdiri dari beberapa pilar yang menopang kelahirannya. Pilar yang dimaksud disini adalah fase-fase perkembangan HMI. Setelah meninjau dan meneliti kembali sejarah perkembangan HMI, kini telah memasuki 8 fase. Fase-fase tersebut adalah:

1. Merintis Jalan Menuju Konsolidasi Spiritual

2. Menghadapi Batu Ujian Pertama

3. Perjuangan Bersenjata Menghadapi Penjajah Belanda dan Penghianatan PKI I

4. Pembinaan HMI sebagai Organisasi Kader dan Alat Perjuangan Bangsa

5. HMI Menghadapi Pengkhianatan PKI II

6. HMI Sebagai Penggerak Angkatan 6, Pelopor dan Pejuang Orde Baru

7. Partisipasi HMI dalam Pembangun.an

8. Pergolakan Pemikiran Tahun 1970-sekarang



Di dalam buku ini juga diuraikan peran HMI dalam kaitannya terhadap perjuangan Bangsa Indonesia yang dikaitkan dengan rumusan tujuan HMI ketika didirikan dimana tujuan HMI yang pertama dapat berfungsi sebagai tolak ukur sampai seberapa jauh HMI dapat memberikan partisipasi dalam membela, mempertahankan, membina, membangun Negara Republik Indonesia.

Berikut diuraikan 5 aspek rumusan pemikiran HMI pada awal berdirinya, yaitu:

a. Bidang Politik

Ajaran agama islam tidak mungkin disiarkan dan dikembangkan dengan baik dan sempurna kalau Negara Republik Indonesia masih dijajah Belanda. Oleh karena itu Proklamasi 17 Agustus 1945 harus dipertahankan agar bebas dari cengkraman penjajahan.

b. Bidang Ekonomi

Bangsa Indonesia hharus dimajukan bidang material sesuai Hadist Nabi kefakiran itu mengakibatkan kekafiran. Ekonominya harus dimajukan karena jika semakin baik dan kuat ekonomi orang Islam, otomatis akan membawa pengaruh positif bagi pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di segala bidang

c. Bidang Pendidikan

Agama Islam tidak bisa maju dan berkembang dengan baik dan sempurna kalau rakyat Indonesia bodoh. Oleh sebab itu rakyat Indonesia harus dididik supaya cerdas, dengan mendapatkan pendidikan yang merata, terbebas dari kebodohan agar menjadi kader-kader penerus perjuangan bangsa di segala bidang

d. Bidang Agama

Lafran Pane berkeinginan agar agama Islam itu jangan hanya dimiliki mahasiswa STI saja, tetapi harus diikuti dan dipelajari mahasiswa di luar STI, baik di Yogyakarta maupun seluruh Indonesia. Oleh karena itu mutlak perlu adanya pembaharuan pemikiran Islam dikalangan umat Islam itu sendiri sehingga agama Islam dapat menampakkan wajahnya yang hakiki dimata masyarakat.

e. Bidang Kebudayaan

Dalam kondisi ini islam menghadapi berbagai macam kebudayaan, mulai dari kebudayaan Barat, Komunisme, Sosialisme, Kristen, katolik, dan Protestan. Kalau kebudayaan Islam tidak mampu bertanding maka derajat Islam akan merosot.

Selanjutnya di dalam buku ini memuat pidato-pidato Ketua Umum Pengurus Besar mulai dari peringatan Dies Natalis HMI yang ke 7 sampai yang ke 49. pidato-pidato yang disampaikan merupakan pemikiran HMI sepanjang sejarah terhadap kemajuan HMI dan Bangsa Indonesia.


HMI KINI DAN ESOK

Dalam perjalanannya HMI telah mencapai masa-masa gemilang dan cerah seperti diuraikan dibawah ini:

· Kondisi organisasi HMI yang telah merata di kota Perguruan Tinggi

· Dalam tingkatan sekarang ini HMI sudah mencapai tingkatan organisasi modern walaupun ridak luput dari kelemahan dan kekurangan

· Anggota dan alumni HMI banyak

· Pengalaman sejarahnya yang panjang dan berhasil

· Peranan pemuda, mahasiswa dalam kehidupan suatu negara adalah besar dan menentukan.Hal ini bisa disaksikan dalam moment-moment sejarah bangsa Indonesia tahun 1908, tahun 1928, tahun 1925, dan tahun 1966

· Pemikiran dan perjuangan HMI relevan dengan dimensi sejarah perjuangan bangsa Indonesia

· Aktivitas dan kegiatan HMI berorientasi untuk kepentingan anggotanya dan masyarakat luas

· Secara fisik memiliki asset nasional berupa 64 cabang penuh, 4 cabang persiapan, 9 buah Badan Koordinasi, 2 buah Badan Khusus, 11 buah Lembaga, dan 150.000 orang anggota.


Semua masa depan yang gemilang dan cerah itu tidak datang begitu saja, tetapi baru bisa dicapai tergantung kepada pengemudi organisasi sejak dari Pengurus Komisariat, Pengurus Cabang, Badan Koordinasi, Pengurus Besar, bahkan anggota dan Alumni HMI seluruhnya. Pengurus, Anggota, dan Alumni harus berani mengadakan koreksi terhadap diri sendiri dan menerima koreksi dari pihak lain agar tidak melakukan kesalahan terus menerus. Suatu tinjauan atau perenungan kembali atas sesuatu yang telah berlalu mungkin akan dapat membrikan motivasi baru dalam peningkatan aktivitas. Di samping itu, akan memberikan suatu pelajaran dan pengalaman untuk menjadi lebih bijaksana dalam mengemban amanat dan tugas Himpunan.

Dalam penjabaran isi buku ini, ada banyak hal yang dapat diambil manfaatnya. Membaca buku ini dapat memperkaya wawasan kita akan sejarah lahirnya organisasi HMI terkait dengan kondisi bangsa Indonesia pada saat itu. Buku ini mengupas secara rinci mulai dari tahapan-tahapan latar belakang berdirinya HMI sampai fase-fase perjuangan dan perkembangan yang dialami HMI dari masa ke masa dengan berbagai peristiwa yang dialami Bangsa Indonesia. Buku ini juga menyajikan naskah-naskah pidato Dies Natalis Ketua Umum Pengurus Besar HMI mulai dari Dies Natalis yang ke-7 sampai 49 walaupun tidak lengkap secara keseluruhan dan tidak berurut. Dengan adanya naskah pidato-pidato tersebut bisa menambah khazanah pemikiran anggota-anggota HMI dan mengetahui kondisi dan perjuangan HMI pada masanya.

Selain itu, buku ini juga melampirkan dokumentasi-dokumentasi tokoh-tokoh sejarah dan kondisi HMI sehingga memudahkan kita untuk mengenal para tokoh sejarah perjuangan HMI serta memiliki gambaran segala aktivitas dan perjuangan HMI. Penggunaan gaya bahasa di dalam buku ini sederhana sehingga tidak sulit untuk dipahami dan uraian sejarah yang disampaikan sistematis. Di akhir buku ini diberikan masukan-masukan yang ahrus dilakukan kader-kader HMI agar HMI dapat mengoreksi diri untuk terus bangkit dan mempertahankan eksistensinya. Buku ini bagus direkomendasikan untuk dibaca karena dengan membaca buku ini dapat memperkaya wawasan kita tentang sejarah perjuangan HMI dan bisa menyadarkan serta meningkatkan motivasi kita sebagai kader HMI untuk terus beraktivitas dalam mewujudkan tujuan HMI.
*) diresensi oleh: Ratna Sari
Category:

sambil santai !!!

Labels

tampilkan banner di blog kamu


ini kode script-nya!

Apa tanggapan anda tentang blog ini?

Temen-Temen

..:: Perhatian !! terima kasih atas kunjungannya ^_^ silahkah berkunjung lagi di lain waktu ::..